MAKALAH AQIDAH AKHLAK
“ADAB BERGAUL KEPADA ORANG TUA”
Oleh :
Wijayanti Sholihah
MADRASAH ALIYAH QOMARUL HIDAYAH
TUGU TRENGGALEK
2017 - 2018
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT,
shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW beserta keluarga
dan sahabatnya. Berkat kudrat dan iradat-Nya akhirnya kami dapat menyelesaikan
makalah “Adab
Bergaul Dengan orang Tua” dengan
tepat waktu.
Dalam
kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan,
bimbingan dan arahan kepada penyusun.
Dalam makalah ini kami menyadari
masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu segala saran dan kritik guna perbaikan
dan kesempurnaan sangat kami nantikan. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun dan para pembaca pada umumnya.
Tugu, Maret 2018
Penulis
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ............................................................................................................ ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................................ iii
BAB I
PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1
Latar belakang masalah .......................................................................................... 1
Rumusan masalah ................................................................................................... 1
Tujuan penulisan ..................................................................................................... 1
BAB II
PEMBAHASAN ........................................................................................................ 2
Pengertian Akhlak Kepada Kepada
Kedua Orang Tua............................................ 2
Berbakti kepada Kedua orang Tua atau
Bir Al-Walidain........................................ 2
Hukum Berbakti Kepada Orang Tua
/Birrul Walidain............................................ 3
Macam-Macam Berbakti Kepada Orang
Tua dan Hak-Hak Mereka..................... 4
Hak Orang Tua Setelah Mereka
Meninggal........................................................... 7
Keutamaan Berbakti Kepada Orang Tua
/ Birrul Walidain.................................... 9
BAB III PENUTUP............................................................................................................... 11
Kesimpulan .............................................................................................................. 11
Saran ....................................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 12
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai
seorang muslim yang baik kita tentu tahu bahwa akhlak terhadap orang tua
merupakan sesuatu hal yang sangat penting. Karena, orang tua adalah orang yang
mengenalkan kita pada dunia dari kecil hingga dewasa.Dan setiap orang tua pun
pasti mempunyai harapan terhadap anaknya agar kelak menjadi anak yang sukses,
berbakti kepada orang tua, serta menjadi lebih baik dan sholeh.
Maka
dari itu, jika kita memang seorang muslim yang baik hendaknya kita selalu berbakti
kepada orang tua, melakukan apa yang telah diperintahkan oleh orang tua, dan
pantang untuk membangkang kepada orang tua.
Namun
di zaman dewasa ini banyak dari kita seperti lupa terhadap kewajiban kita
terhadap orang tua sebagai muslim yang baik, yaitu adalah kita harus memiliki
akhlak yang sempurna terhadap orang tua kita. Makalah ini mengandung poin-poin
penting bagaimana menjadi seorang anak yang berbakti terhadap orang tuanya.
Maka selain sebagai upaya untuk mengerjakan tugas akhlak, saya berharap bahwa
tugas makalah ini juga dapat dijadikan sebagai pengingat bagi setiap orang
muslim yang membacanya akan pentingnya
akhlak terhadap orang tua.
B. Rumusan Masalah
Rumusan Masalah
yang penulis ambil dari Makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa Pengertian Akhlak Kepada Orang Tua ?
2. Apa saja contoh adab kepada orang tua ?
3. Apa Makna Birrul Walidain / Berbakti
Kepada orang Tua ?
4. Bagaimana Keutamaan Berbakti Kepada Orang
Tua / Birrul Walidain ?
C. Tujuan Masalah
1. Menjelaskan pengertian Akhlak kepada
Orang Tua.
2. Dapat memberi contoh adab kepada orang
tua.
3. Menjelaskan makna berbakti kepada orang
tua / birrul walidain.
4. Menjelaskan keutamaan berbakti kepda
orang tua / birrul walidain.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Akhlak Kepada Kepada Kedua Orang
Tua
Kata
Akhlak. berasal dari bahasa Arab, jamak dari khuluqun yang menurut bahasa
berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat. Tabiat atau watak
dilahirkan karena hasil perbuatan yang diulang-ulang sehingga menjadi biasa.
Perkataan ahklak sering disebut kesusilaan, sopan santun dalam bahasa
Indonesia; moral, ethnic. Dalam bahasa Inggris sering disebut ethos
sedangkan ethios dalam bahasa Yunani.
Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun yang
berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan khaliq yang berarti
pencipta; demikian pula dengan makhluqun yang berarti yang diciptakan.
Adapaun
definisi akhlak menurut istilah ialah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan
perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran
terlebih dahulu. Senada dengan hal ini Abd Hamid Yunus mengatakan bahwa akhlak
ialah Sikap mental yang mengandung daya dorong untuk berbuat tanpa berfikir dan
pertimbangan.
Menurut
Imam Ghazali, dalam kitab ihya ulumuddin, mengatakan akhlak dengan gampang dan
mudah dengan tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Dengan
demikian dari definisi akhlak dan kedua orang tua di atas dapat disimpulkan
bahwa akhlak kepada kedua orang tua adalah kehendak jiwa manusia yang
menimbulkan perbuatan baik karena kebiasaan tanpa pemikiran dan pertimbangan
sehingga menjadi kepribadian yang kuat di dalam jiwa seseorang untuk selalu
berbuat baik kepada orang yang telah mengasuhnya mulai dari di dalam kandungan
maupun setelah dewasa.
B. Berbakti kepada Kedua orang Tua atau Bir
Al-Walidain
1. Makna "Al-Birr"
Al Birr yaitu
kebaikan, berdasarkan sabda Rasulullah "Al Birr adalah baiknya akhlaq.
Al-Birr merupakan haq kedua orang tua dan kerabat dekat. Sedangkan lawan dari
al-Birr adalah Al-‘Uquuq yaitu kejelekan dan menyia-nyiakan haq. Al Birr adalah
mentaati kedua orang tua didalam semua apa yang mereka perintahkan kepada kita
semua, selama tidak bermaksiat kepada Allah, sedangkan Al-‘Uquuq dalam
aplikasinya adalah menjauhi mereka dan tidak berbuat baik kepadanya.
Menurut
Urwah bin Zubair tentang "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua
dengan penuh kesayangan." (QS. Al Isra’ :24). Dalam ayat ini menurut beliau jangan sampai
mereka berdua tidak ditaati sedikitpun. Sedangkan menurut Imam Al Qurtubi yang
dimaksud dengan kalimat ‘Uquuq adalah durhaka kepada orang tua adalah
menyelisihi atau menentang keinginan-keinginan mereka dari perkara-perkara yang
mubah, sedsngkan kalimat Al-Birr atau berbakti kepada keduanya adalah memenuhi
apa yang menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau
keduanya memerintahkan sesuatu, maka wajib mentaatinya selama hal itu bukan
perkara maksiat, sekalipun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib tapi
mubah pada asalnya,begitu pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah
perkara yang mandub yaitu disukai atau
disunnahkan maka diwajibkan juga.
Seiring
dengan pernyataan diatas Ibn Taimiyyah yang dikutipnya dari Abu Bakar di dalam
kitab Zaadul Musaafir yaitu barang siapa yang menyebabkan kedua orang tuanya
marah dan menangis, maka dia harus mengembalikan keduanya kepada suasana yang
semula agar mereka bisa tertawa dan senang kembali.
C. Hukum Berbakti Kepada Orang Tua /Birrul
Walidain
Para
Ulama’ Islam sepakat bahwa hukum berbuat baik atau berbakti pada kedua orang
tua hukumnya adalah wajib, hanya saja mereka berselisih tentang ibarat-ibarat
atau contoh pengamalannya misalnya mengenai orang anak yang mengatakan “uh”
atau “ah” ketika di suruh oleh kedua orang tua tersebut. Pendapat Ibnu Hazm
menganai hukum birrul walidain, menurutnya birul walidain adalah fardhu a’in
yaitu wajib bagi masing-masing individu. Sedangkan menurut Al-Qadli Iyyad
birrul walidain adalah wajib kecuali terhadap perkara yang haram.
Adapun
dalil-dalil Shahih dan Sharih yang mereka gunakan banyak sekali diantaranya:
a. Firman Allah Swt. dalam surah An-Nisa’
ayat 36 yaitu "Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak". (An
Nisa’ : 36).
b. Firman Allah Swt. Dalam Al-qur’an surah
Al-Isra’ ayat 23 yang artinya "Dan
Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya". (QS.
Al Isra’: 23).
c. Firman Allah Swt di dalam Al-Qur’an
surah Lukman ayat 14 yang artinya "Dan Kami perintahkan kepada manusia
(berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam
keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka
bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah
kembalimu." (QS. Luqman :14).
d. Hadits Al Mughirah bin Syu’bah dari Nabi
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda "Sesungguhnya Allah
mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak
perempuan, dan tidak mau memberi tetapi meminta-minta atau bakhil dan Allah
membenci atas kalian mengatakan katanya si fulan begini si fulan berkata begitu
tanpa diteliti terlebih dahulu, banyak bertanya yang tidak bermanfaat, dan
membuang-buang harta".
D. Macam-Macam Berbakti Kepada Orang Tua dan Hak-Hak
Mereka
Kedua
orang tua adalah manusia yang paling berjasa dan utama bagi diri seseorang.
Allah SWT telah memerintahkan dalam berbagai tempat di dalam Al-Qur'an agar
berbakti kepada kedua orang tua. Hak kedua orang tua merupakan hak terbesar
yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim. Di sini akan dicantumkan beberapa
adab yang berkaitan dengan masalah ini. Antara lain hak yang wajib dilakukan
semasa kedua orang tua hidup dan setelah meninggal.
Hak-hak yang
wajib dilaksanakan semasa orang tua masih hidup ialah sebagai berikut :
a. Mentaati Mereka Selama Tidak Mendurhakai
Allah
Mentaati kedua
orang tua hukumnya wajib atas setiap Muslim. Haram hukumnya mendurhakai
keduanya. Tidak diperbolehkan sedikit pun mendurhakai mereka berdua kecuali
apabila mereka menyuruh untuk menyekutukan Allah atau mendurhakai-Nya. Allah
SWT berfirman: "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan
Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu
mengikuti keduanya..." (QS. Luqman: 15).
b. Berbakti dan Merendahkan Diri di Hadapan
Kedua Orang Tua
Allah SWT juga
berfirman "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada
kedua orang tua ibu bapaknya..." (QS. Al-Ahqaaf: 15). "Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang tua ibu bapak..." (QS. An-Nisaa': 36).[ [15]]
Perintah berbuat baik ini lebih ditegaskan jika usia kedua orang tua semakin
tua dan lanjut hingga kondisi mereka melemah dan sangat membutuhkan bantuan dan
perhatian dari anaknya. Ini juga diperkuat dengan Firman Allah dalan Al-qur’an
Surah Al-Israa’ ayat 23-24.
c. Merendahkan Diri Di Hadapan Keduanya
Rendahkanlah diri
dihadapan mereka berdua dengan cara mendahulukan segala urusan mereka,
mempersilakan mereka duduk di tempat yang empuk, menyodorkan bantal, janganlah
mendului makan dan minum, dan lain sebagainya. Hal yang sepele ini kadang bisa
kita lupakan, tidak sadar jika hal itu bisa mendurhakai kepada kedua orang tua
kita.
d. Berbicara Dengan Lembut Di Hadapan Mereka
Berbicara dengan
lembut merupakan kesempurnaan bakti kepada kedua orang tua dan merendahkan diri
di hadapan mereka, sebagaimana firman Allah SWT :"...Maka sekali-kali
janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS.
Al-Israa': 23). Oleh karena itu, berbicaralah kepada mereka berdua dengan
ucapan yang lemah lembut dan baik serta dengan lafazh yang bagus.
e. Menyediakan Makanan Untuk Mereka
Menyediakan
makanan juga termasuk bakti kepada kedua orang tua, terutama jika ia memberi
mereka makan dari hasil jerih payah sendiri. Jadi, sepantasnya disediakan untuk
mereka makanan dan minuman terbaik dan lebih mendahulukan mereka berdua
daripada dirinya, anaknya, dan suaminya.
f. Meminta Izin Kepada Mereka Sebelum
Berjihad dan Pergi Untuk Urusan Lainnya
Izin kepada orang
tua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan. Seorang laki-laki datang
menghadap Rasulullah saw dan bertanya: "Ya, Raslullah, apakah aku boleh
ikut berjihad?" Beliau balik bertanya: "Apakah kamu masih mempunyai
kedua orang tua?" Laki-laki itu menjawab: "Masih." Beliau
bersabda: "Berjihadlah dengan cara berbakti kepada keduanya.
Seorang
laki-laki hijrah dari negeri Yaman lalu Nabi saw bertanya kepadanya:
"Apakah kamu masih mempunyai kerabat di Yaman?" Laki-laki itu
menjawab: "Masih, yaitu kedua orang tuaku." Beliau kembali bertanya:
"Apakah mereka berdua mengizinkanmu?" Laki-laki itu menjawab:
"Tidak." Lantas, Nabi saw bersabda: "Kembalilah kamu kepada
mereka dan mintalah izin dari mereka. Jika mereka mengizinkan, maka kamu boleh
ikut berjihad, namun jika tidak, maka berbaktilah kepada keduanya.
Pentingya
ridha seorang ibu itu mengalahkan keputusan seorang nabi sendiri. Dapat kita
lihat hadist-hadist yang menjelaskan kemulian seorang ibu mengalahkan kemulian
seorang bapak sekalipun mereka sama-sama orang tua kita, alasanya sangat
sederhana ibulah yang mengandung dan melahirkan serta mengasuh kita sampai
dewasa. Mengenai kehamilan seorang ibu di gambarkan di dalam al-Qur’an dengan
kalimat “ wahnan ‘ala wahnin” yaitu derita diatas penderitaan.
g. Memberikan Harta Kepada Orang Tua Menurut
Jumlah Yang mereka Inginkan
Rasulullah saw
pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika ia berkata: "Ayahku ingin
mengambil hartaku." Nabi saw bersabda: "Kamu dan hartamu milik
ayahmu. Oleh sebab itu, hendaknya seseorang jangan bersikap bakhil atau kikir
terhadap orang yang menyebabkan keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil
dan lemah, serta telah berbuat baik kepadanya.
h. Membuat Keduanya Ridha Dengan Berbuat
Baik Kepada Orang-orang yang Dicintai Mereka
Hendaknya
seseorang membuat kedua orang tua ridha dengan berbuat baik kepada para
saudara, karib kerabat, teman-teman, dan selain mereka. Yakni, dengan
memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim dengan mereka, menunaikan
janji-janji orang tua kepada mereka. Akan disebutkan nanti beberapa hadits yang
berkaitan dengan masalah ini.
i. Memenuhi Sumpah Kedua Orang Tua
Apabila kedua
orang tua bersumpah kepada anaknya untuk suatu perkara tertentu yang di
dalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk
memenuhi sumpah keduanya karena itu termasuk hak mereka. Misalnya, mereka
bersumpah jika tanah saya laku dijual denga harga Rp 1M maka saya akan
memberikan 1/3 dari uang saya tersebut tetapi sebelum itu dilaksanakan kedua
orang tua tersebut sudah meninggal dunia, maka sumpah ini harus dipenuhi oleh
ahli warisnya.
Hal ini pernah
dilakukan oleh para sahabat ketika Nabi Bersabda “ saya akan berpuasa pada
bulan asyura” tetapi sebelum bulan itu datang Nabi telah wafat terlebih dahulu,
tetapi dengan ijtihad para sahabat tetap melaksankan ritual puasa tersebut
sampai sekarang.
j. Tidak Mencela Orang Tua atau Tidak
Menyebabkan Mereka Dicela Orang Lain
Mencela orang tua
dan menyebabkan mereka dicela orang lain termasuk salah satu dosa besar.
Rasulullah saw bersabda: "Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela
orang tuanya." Para Sahabat bertanya: "Ya, Rasulullah, apa ada orang
yang mencela orang tuanya?" Beliau menjawab: "Ada. Ia mencela ayah
orang lain kemudian orang itu membalas mencela orang tuanya. Ia mencela ibu
orang lain lalu orang itu membalas mencela ibunya.
k. Mendahulukan Berbakti Kepada Ibu Daripada
Ayah
Seorang laki-laki
pernah bertanya kepada Rasulullah saw: "Siapa yang paling berhak
mendapatkan perlakuan baik dariku?" Beliau menjawab: "Ibumu."
Laki-laki itu bertanya lagi: "Kemudian siapa lagi?" Beliau kembali
menjawab: "Ibumu." Laki-laki itu kembali bertanya: "Lalu siapa
lagi?" Beliau kembali menjawab: "Ibumu." Lalu siapa lagi?"
tanyanya. "Ayahmu," jawab beliau.
Maksud lebih
mendahulukan berbuat baik kepada ibu, yaitu lebih bersikap lemah-lembut, lebih
berperilaku baik, dan memberikan sikap yang lebih halus daripada ayah. Hal ini
apabila keduanya berada di atas kebenaran. Sebagian salaf berkata: "Hak
ayah lebih besar dan hak ibu patut untuk dipenuhi."
E. Hak Orang Tua
Setelah Mereka Meninggal
a. Menshalati Keduanya
Maksud menshalati
di sini adalah mendo'akan keduanya. Yakni, setelah keduanya meninggal dunia,
karena ini termasuk bakti kepada mereka. Oleh karena itu, seorang anak
hendaknya lebih sering mendo'akan kedua orang tuanya setelah mereka meninggal
daripada ketika masih hidup. Apabila anak itu mendo'akan keduanya, niscaya
kebaikan mereka berdua akan semakin bertambah, berdasarkan sabda Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam: "Apabila manusia sudah meninggal, maka
terputuslah amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat,
dan anak shalih yang mendo'akan dirinya.
b. Beristighfar Untuk Mereka Berdua
Orang tua adalah
orang yang paling utama bagi seorang Muslim untuk dido'akan agar Allah
mengampuni mereka karena kebaikan mereka karena kebaikan mereka yang besar.
Allah Subhanahu wa TA'ala menceritakan kisah Ibrahim Alaihissalam dalam
Al-Qur'an: "Ya, Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku..."
(QS.Ibrahim: 41).
c. Menunaikan Janji Kedua Orang Tua
Hendaknya
seseorang menunaikan wasiat kedua orang tua dan melanjutkan secara
berkesinambungan amalan-amalan kebaikan yang dahulu pernah dilakukan keduanya.
Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amalan kebaikan
yang dulu pernah dilakukan dilanjutkan oleh anak mereka.
d. Memuliakan Teman Kedua Orang Tua
Memuliakan teman
kedua orang tua juga termasuk berbuat baik pada orang tua, sebagaimana yang
telah disebutkan. Ibnu Umar r.a pernah berpapasan dengan seorang Arab Badui
dijalan menuju Makkah. Kemudian, Ibnu Umar mengucapkan salam kepadanya dan
mempersilakannya naik ke atas keledai yang ia tunggangi. Selanjutnya, ia juga
memberikan sorbannya yang ia pakai. Ibnu Dinar berkata: "Semoga Allah
memuliakanmu. Mereka itu orang Arab Badui dan mereka sudah biasa
berjalan." Ibnu Umar berkata: "Sungguh dulu ayahnya teman Umar bin
al-Khaththab dan aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya
bakti anak yang terbaik ialah seorang anak yang menyambung tali persahabatan
dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya tersebut meninggal.
e. Menyambung Tali Silaturahim Dengan
Kerabat Ibu dan Ayah
Hendaknya
seseorang menyambung tali silaturahim dengan semua kerabat yang silsilah
keturunannya bersambung dengan ayah dan ibu, seperti paman dari pihak ayah dan
ibu, bibi dari pihak ayah dan ibu, kakek, nenek, dan anak-anak mereka semua.
Bagi yang melakukannya, berarti ia telah menyambung tali silaturahim kedua
orang tuanya dan telah berbakti kepada mereka. Hal ini berdasarkan hadits yang
telah disebutkan dan sabda beliau saw: "Barang siapa ingin menyambung
silaturahim ayahnya yang ada di kuburannya, maka sambunglah tali silaturahim
dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal.[ [25]]
F. Keutamaan Berbakti Kepada Orang Tua / Birrul
Walidain
Adapun keutamaan
birrul walidain adalah sebagai berikut :
1. Termasuk Amalan Yang Paling Mulia
Dari Abdullah bin
Mas’ud mudah-mudahan Allah meridhoinya dia berkata: Saya bertanya kepada
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: Apakah amalan yang paling dicintai oleh
Allah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: "Sholat tepat
pada waktunya", Saya bertanya: Kemudian apa lagi?, Bersabada Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam "Berbuat baik kepada kedua orang tua".
Saya bertanya lagi : Lalu apa lagi? Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam
bersabda : "Berjihad di jalan Allah".(Diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim dalam Shahih keduanya).
2. Merupakan Salah Satu Sebab-Sebab
Diampuninya Dosa
Allah SWT
berfirman : "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada
dua orang ibu bapaknya….", hingga akhir ayat berikutnya : "Mereka
itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah
mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama
penghuni-penghuni surga. Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada
mereka." (QS. Al Ahqaf 15-16).
3. Termasuk Sebab Masuknya Seseorang Ke
Surga
Dari Mu’awiyah
bin Jaahimah mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua, Bahwasannya Jaahimah
datang kepada Rasulullah saw kemudian berkata : "Wahai Rasulullah, saya
ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (kesini) untuk minta nasehat
pada anda. Maka Rasulullah saw bersabda : "Apakah kamu masih memiliki
Ibu?". Berkata dia : "Ya". Bersabda Rasulullah saw :
"Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak
kakinya". (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Nasa’I dalam Sunannya dan Ahmad
dalam Musnadnya, Hadits ini Shohih. (Lihat Shahihul Jaami No. 1248)
4. Merupakan Sebab keridhaan Allah
Sebagaimana
hadits yang terdahulu "Keridhaan Allah ada pada keridhaan kedua orang tua
dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan kedua orang tua". Allah sangat membenci orang yang selalu membuat
orang tua cemberut, marah dan lain-lain. Sebagai seorang anak maka kita
berkewajiban untuk selalu membuat mereka bangga terhadap apa yang akan kita
capai.
5. Merupakan Sebab Bertambahnya Umur dan
Rizki
Diantarnya hadits
yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia
berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Barangsiapa
yang suka Allah besarkan rizkinya dan Allah panjangkan umurnya, maka hendaklah
dia menyambung silaturrahim". Berbakti kepada kedua orang tua juga
merupakan sebab barokahnya rizki.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan.
Dari
segi bahasa Akhlaq berasal daripada kata ‘khulq’ yang bererti perilaku,
perangai atau tabiat. Hal ini terkandung dalam perkataan Sayyidah Aisyah
berkaitan dengan akhlak Rasulullah saw yaitu : “Akhlaknya (Rasulullah) adalah
al-Quran.” Akhlak Rasulullah yang dimaksudkan di dalam kata-kata di atas ialah
kepercayaan, keyakinan, pegangan, sikap dan tingkah laku Rasulullah saw yang
semuanya merupakan pelaksanaan dari ajaran al-Quran.
Menjaga
akhlak kepada kedua orang tua dapat dilakukan dengan berbagai cara salah
satunya yaitu menghormati serta berbicara dengan penuh kasih kepada kedua orang
tua, serta berakhlak yang baik diperintahkan oleh Allah SWT baik dalam
Al-Qur’an maupun hadis, Ada 2 dosa yang disegerakan hukumannya di dunia ini,
yaitu zina dan durhaka kepada kedua orangtua. Medurhakai orang tua akan
mendapatkan ganjaran yang amat pedih sebaliknya berbakti kepada orang tua akan
mendapatkan ganjaran yang setimpal baik didunia maupun di akhirat karena
keridhaan Allah terletak pada keridhaan kedua orang tua.
B. Saran
Semoga dengan membaca makalah ini kita bisa bertambah wawasan kepada
orang tua. Dengan harapan agar
kita menghormati dan menyayangi Orang Tua, kapanpun dan dimanapun Kita berada,
berbaktilah kepada kedua orang tua, dan janganlah kita durhaka kepada keduanya.
Seberapapun pengorbanan kita kepada orang tua takkan mampu membalas pengorbanan
mereka kepada kita dari masih dalam kandungan sampai kita saat ini.
.
DAFTAR
PUSTAKA
A Mustafa, Akhlak Tasawuf, Pustaka Setia: Jakarta, 1999.
Abd. Hamid Yunus,
Da.irah al-Ma.arif, II, Asy.syab, t.t : Cairo.
Imam Ghazali,
Ihya Ulumuddin, Darur Riyan,, Jilid. III, 1987.
Ibrahim Anis,
Al-Mu.jam al-Wasith, Darul Ma.arif :
MesirDarul Ma.arif, 1972.
Abuddin Nata dan
Fauzan, Pendidikan Dalam Persfektif Hadits, UIN Jakarta Press: Jakarta, 2005.
Ibn Muslim
al-Qurasyi al- nasaiburi, al-Jami’ al-Shahih, Dar al-Fikr : Bairut Lebanon
Hadis Nomor 1794, 2006.
Urwah bin Zubair
. Ad-Darul Mantsur, jilid 5.
Al Qurtubi ,Al
Jami’ Li Ahkamil Qur’an. Al-Muassah al-risalah : Lebanon. Jil 6, 2000.
Ibnu Taimiyah.
Ghadzaul Al Baab, jilid 1.
Departemen Agama
RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Yayasan penyelenggara penterjemah
Al-qur’an, 1984.
Keterangan ini
bias kita temukan dalam kitab Fathul Qodiir, jilid 3.
Abi Abdullah
Muhammad bin ismail al_bukhari, Matnul Masykul Bukhari. Dar al-Fikr : Birut
Lebanon hadist no. 4340, 7145, 7257, 2006.